Nama Humprey resmi diumumkan sebagai salah satu finalis Mermaid Merman Indonesia 2026, menandai kembalinya ia ke panggung nasional yang telah membentuk perjalanan maritimnya selama lebih dari satu dekade. Bagi Humprey, momen ini bukan sekadar lolos seleksi, melainkan babak baru dari misi panjang yang telah ia rintis sejak lama.
“Jujur, campur aduk! Ada rasa syukur yang luar biasa sekaligus tanggung jawab besar. Kembali ke panggung nasional setelah sekian lama terasa seperti pulang ke rumah yang saya cintai: Samudera Indonesia,” ungkapnya. Ia menyebut langkah ini sebagai sebuah evolutionary journey fase di mana pengalaman, idealisme, dan kematangan dirinya bertemu dalam satu titik.

Melalui ajang yang diselenggarakan oleh Yayasan El John Indonesia dan berkolaborasi dengan Marine Action Expo, Humprey membawa gagasan “The Ethical Mermaid”. Baginya, menjadi ocean ambassador di era modern tidak cukup hanya tampil memukau di kamera. Ada standar etika bawah air yang harus dijaga, termasuk memastikan setiap karya kreatif tidak merusak terumbu karang maupun biota laut.
Perjalanan Humprey dimulai sejak 2015 saat ia menjadi perwakilan Kalimantan Selatan di ajang Putra Putri Bahari Indonesia 2015. Sejak itu, keterlibatannya dalam aksi tanam mangrove hingga restorasi terumbu karang menjadi bukti konsistensi menjaga “jiwa maritim”. Tahun ini, ia ditantang menggabungkan identitas sebagai aktivis lingkungan dengan sisi artistik seorang underwater performer.

Tantangan terbesarnya adalah proses re-branding diri. Dari sosok aktivis yang dikenal serius dan kaku, ia belajar menjadi performer yang anggun dan ekspresif tanpa kehilangan substansi advokasi. Menemukan keseimbangan antara edukasi dan estetika menjadi proses pendewasaan yang signifikan.
Dengan latar belakang profesional sebagai Customer Experience Manager serta pengalaman berkolaborasi dengan sektor kelautan dan pariwisata, Humprey menghadirkan kombinasi legacy dan substansi. Ia tidak hanya menawarkan visual, tetapi rekam jejak nyata. Baginya
