LOGO YEI 2021-04
Putri Pangan Indonesia 2023 Rei Yurika Ajak Masyarakat Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Indonesia memiliki tanah yang subur, sehingga banyak bahan makanan seperti umbi-umbian hingga buah-buahan dapat berbuah dengan baik. Meski begitu, masih ada tantangan terkait akses, distribusi, dan ketahanan pangan.

Seperti diungkapkan oleh Putri Pangan Indonesia 2023 Rei Yurika bahwa banyak orang di pedesaan masih menghadapi kesulitan dalam mengakses pangan yang cukup, sementara limbah pangan dan kebijakan pertanian juga menjadi perhatian.

“Kalau sekarang Indonesia terancam krisis pangan dan itu disebabkan oleh Elnino atau fenomena alam yang terjadi saat suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur lebih hangat dibanding biasanya. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan cuaca global secara signifikan dan kalau di Indonesia menyebabkan kekeringan,” jelasnya.

Putri Binaan Yayasan El John Indonesia ini mengungkapkan, dengan adanya kekeringan yang melanda Indonesia dapat menimbulkan dampak bagi sektor pertanian, seperti gangguan musim tanam, gagal panen, sehingga produktifitas pertanian berkurang dan berpengaruh terhadap ketidakstabilan harga pasar.

“Dan ini juga menjawab pertanyaan yang sering aku dapat sebagai Putri Pangan Indonesia 2023 ‘Kenapa harga beras naik?’. Kita tidak mencegah Elnino karena itu fenomena alam, tapi kita bisa mengantisipasi dampaknya, yaitu krisis pangan. Kalau dari Kementan sendiri sudah memastikan ketersediaan dan stabilitas stok pangan dan bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dalam proses pendistribusiannya,” ucapnya.

Permasalahan terkait pangan yang juga perlu diperhatikan adalah food waste dan food loss. Menurut Rei, ini merupakan masalah yang sangat serius karena secara global 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun.

Permasalahan ini tidak lepas dari pola makan masyarakat yang mempunyai kebiasaan tidak menghabiskan makanan, melebihi porsi makan, membeli atau memasak makanan yang tidak disukai. Dengan adanya sampah makanan, dapat berdampak pada berbagai aspek, seperti lingkungan, sosial, dan ekonomi.

“Padahal kalau dikonversi, biaya kerugian akibat sampah makanan dapat mengurangi tingkat kelaparan dan ketidaksetaraan akses pangan. Oleh sebab itu, penting untuk kita meningkatkan pemahaman dan kesadaran bahwa kita semua memiliki peran dalam mengurangi sampah makanan karena mengurangi sampah pangan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan jumlah sampah makanan seperti menerapkan stop boros pangan, mengonsumsi makanan sampai habis, membeli pangan sesuai kebutuhan, mengontrol jumlah makanan yang dibuang, hingga menggunakan makanan sisa dengan bijak.

“Lalu diversifikasi pangan atau mengonsumsi beragam jenis pangan dapat membantu mencegah krisis pangan. Ini juga mengurangi ketergantungan pada satu jenis tanaman atau sumber pangan, mengonsumsi makanan pokok selain nai seperti ubi dan sorgum sebagai cara untuk mengatasi kenaikan harga beras di pasaran,” ucapnya.

Perempuan yang hobi melukis ini juga mengajak untuk menanam sendiri tumbuhan pangan seperti singkong, ubi jalar, dan lainnya. Dengan menanam tumbuhan pangan, turut berkontribusi menjaga ketahanan pangan nasional.

“Sebagai Putri Pangan Indonesia 2023, menurut aku edukasi sangatlah penting. Jadi aku akan terus mengkampanyekan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai Gerakan Selamatkan Pangan, diversifikasi pangan juga akibat atau dampak dari food waste. Bekerja sama dengan pemerintah maupun sektor swasta dalam proyek-proyek yang mendukung ketahanan pangan,” jelasnya,

Rei berkolaborasi dengan beberapa stakeholder untuk mengadakan seminar petani di desa kabupaten Cirebon. Ia menjelaskan bahwa mayoritas penduduk di daerah tersebut bekerja sebagai petani, dan Cirebon sendiri sebagai lumbung padi Jawa Barat dan nasional.

“Aku juga bekerja sama dengan Pangan Publik Indonesia untuk mempromosikan produk UMKM binaan mereka. Aku juga tergabung di Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir di mana ternyata banyak masyarakat pesisir yang lebih mementingkan membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan gizi anaknya, sehingga banyak anak yang tinggal di pesisir terkena stunting,” katanya yang kini juga menjadi mahasiswi tingkat akhir Sastra Jepang.

Rei berharap, seluruh lapisan masyarakat dapat saling bahu membahu agar tidak ada krisis pangan di Indonesia, serta merata ke setiap daerah. Dengan adanya Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober, juga menjadi pengingat akan pentingnya masalah pangan, baik tingkat nasional hingga global.

“Harapan aku untuk pangan di Indonesia agar produksi pangan lebih berkelanjutan, yang memperhitungkan lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang,  praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, ketersediaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Indonesia, serta mencapai kedaulatan pangan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *